Posted by: aptogaz | July 31, 2007

CNG Perlu Digalakkan

compressed_natural_gas_steel_cylinders.jpg

Semakin tingginya tingkat pencemaran udara dan semakin tingginya harga bahan bakar minyak membuat semakin banyak orang yang melirik bahan bakar alternatif, antara lain bahan bakar gas jenis CNG (compressed natural gas) atau gas alam yang dikompresi.

Sesungguhnya bahan bakar gas (BBG) bukanlah barang baru di negara ini. Pencanangan untuk menggunakan BBG yang harganya lebih murah dan lebih bersih lingkungan daripada bahan bakar minyak (BBM) sudah dilakukan sejak tahun 1986. Pada saat itu ditetapkan bahwa 20 persen dari armada taksi harus memakai CNG. Namun, karena pada saat itu harga BBM masih dianggap terjangkau dan stasiun pengisian BBM terdapat di mana-mana, maka minat untuk menggunakan BBG tidak sempat membesar.

Di Jakarta, pengguna BBG umumnya taksi. Di luar itu masih ada sejumlah mobil pribadi, dan akhir-akhir ini bajaj baru dan bus transjakarta rute 2 dan rute 3. Padahal di luar negeri, antara lain Thailand, India, dan Australia, penggunaan CNG sudah meluas.

Keberadaan stasiun pengisian BBG (SPBG) tidak banyak, selain pengguna BBG memang belum banyak, juga karena kehadiran SPBG mengikuti jaringan pipa gas milik PT Perusahaan Gas Negara. CNG disalurkan melalui jaringan pipa karena CNG tidak dapat ditransportasikan.

CNG berbeda dengan LPG (liquefied petroleum gas) dan LNG (liquefied natural gas) yang bisa ditransportasikan. Namun, karena harga CNG lebih murah daripada LPG dan LNG, maka CNG-lah yang dipilih sebagai BBG alternatif.

Saat ini di Jakarta hanya terdapat 14 SPBG, tetapi yang berfungsi tak lebih dari enam SPBG. Untuk mendorong penggunaan CNG, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengharuskan bus transjakarta yang melayani rute 2, rute 3, dan rute selanjutnya untuk menggunakan CNG. Dan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 21 Mei 2006, saat mencanangkan pemasyarakatan BBG pada kendaraan bermotor di SPBG bus transjakarta di Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur, mengemukakan, pemerintah segera mempercepat pembangunan stasiun pengisian CNG dan infrastruktur lainnya untuk mengganti penggunaan BBM dengan BBG.

Idealnya, tekanan pada jaringan pipa gas adalah 11 bar, dan agar pengisian CNG bisa berlangsung dengan cepat, diperlukan tekanan sebesar 200 bar, atau 2.901 psi, atau 197 atm, 197 kali tekanan udara biasa. Dengan tekanan sebesar 200 bar, pengisian CNG setara 130 liter premium dalam waktu 3-4 menit.

Selama ini, tekanan pada jalur pipa gas hanya 2 bar sehingga kompresor pada stasiun pengisian CNG harus bekerja keras untuk mengubah tekanan sampai 200 bar. Jika tekanan tak sampai 200 bar, pengisian CNG ke dalam tangki CNG di kendaraan bermotor akan berlangsung lama.

Perlu berhati-hati

Dengan tekanan sebesar 200 bar, tentunya penanganan CNG perlu dilakukan secara hati-hati. Antara lain dengan menggunakan tangki gas yang memenuhi persyaratan dan dipasang di bengkel yang direkomendasi.

John C Hartley, penasihat teknis PT Petross Gas, mengatakan, tangki CNG dibuat dengan menggunakan bahan-bahan khusus yang mampu membawa CNG dengan aman. Sama sekali tidak diperkenankan untuk memodifikasi tangki tersebut. Jika dianggap tangki yang dibeli volumenya terlalu kecil, lebih baik membeli tangki yang volumenya lebih besar daripada memodifikasinya sendiri. Sama sekali tidak diperkenankan untuk memodifikasi tangki tersebut. Jika dilakukan, daya tahan tangki tersebut terhadap tekanan tinggi menjadi tidak terukur.

PT Petross Gas adalah agen distributor tunggal Converter Kit BBG, yang agen tunggal pemegang mereknya adalah PT Hyundai Indonesia Motor.

Untuk kendaraan penumpang, pemeriksaan tabung dilakukan satu tahun sekali, sedangkan untuk kendaraan umum dua kali setahun. Jika dianggap masih layak pakai, penggunaannya bisa diperpanjang. Dan, jika tangki CNG diperiksa secara berkala, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Menurut Presiden Direktur PT Hyundai Indonesia Motor Jongkie D Sugiarto, mengingat kemampuan untuk memelihara pada diri setiap individu bangsa Indonesia sangat rendah, maka akan dicarikan cara agar keamanan tabung tetap terjaga. Antara lain dengan meminta pengendara yang ingin mengisi CNG menunjukkan sertifikat bahwa tangki CNG yang berada di mobilnya telah diperiksa dan dinyatakan aman.

Pemasangan kit CNG memerlukan biaya Rp 11 juta, termasuk PPN. Selintas biaya itu terlihat mahal, tetapi sesungguhnya jika dibandingkan dengan penghematan yang didapat dari penggunaan CNG, biaya itu bisa dibilang tidak mahal.

Sebuah taksi setiap hari mengeluarkan uang untuk membeli 30 liter premium seharga Rp 4.500 per liter, atau Rp 135.000. Jika taksi itu menggunakan CNG, uang yang dikeluarkan hanya Rp 90.000 untuk membeli CNG setara 30 liter premium. Harga CNG setara 1 liter premium Rp 3.000. Jika setiap hari taksi itu menghemat sebanyak Rp 45.000, dalam waktu satu setengah tahun biaya yang dikeluarkan untuk pemasangan kit CNG itu sudah tertutup.

Masih terbatasnya ketersediaan SPBG membuat sejumlah pengguna CNG, terutama mobil pribadi, memilih untuk menggunakan dua bahan bakar, CNG dan premium. Dengan demikian, jika CNG di tangki tinggal sedikit sementara SPBG masih jauh, pengendara tinggal memindahkan tombol ke penggunaan premium. Namun, tentunya ketersediaan premium di tangki harus dibatasi (jangan terlalu banyak). Jika terlalu banyak, beban yang ditanggung mobil semakin besar dan tentunya itu berakibat pada tarikan yang menjadi lamban dan pemborosan bahan bakar.

Selain ekonomis, CNG juga lebih bersih lingkungan ketimbang BBM, yakni premium dan solar. Apalagi jika dibandingkan dengan bahan bakar solar yang saat ini kualitasnya masih sangat jauh di bawah kualitas solar bersih, yang dijual dengan nama Pertamina Dex. Bayangkan berapa besar pencemaran udara yang diakibatkan ribuan bus, truk, dan mobil pribadi yang setiap hari lalu lalang di ruas-ruas jalan Jakarta dan sekitarnya dengan menggunakan bahan bakar solar. (JL)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/26/Otomotif/2680916.htm


Categories

%d bloggers like this: