Posted by: aptogaz | November 7, 2008

Konversi BBG Jalan Terus

busway CNG

busway CNG

INILAH.COM, Jakarta

Kepala Divisi Humas PT Pertamina Wisnuntoro memaparkan, program konversi ke BBG harus jalan terus apalagi harga minyak dunia semakin melambung melewati level US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak dunia makin memberatkan APBN dengan beban subsidi yang lebih besar.

“Pemerintah harus berpikir keras untuk menggunakan bahan bakar selain minyak, di antaranya gas,” papar Wisnuntoro saat dihubungi INILAH.COM, di Jakarta. Ia mengakui kendala program konversi ke BBG adalah harga converter kit yang mahal, yaitu di atas Rp 10 juta per setnya.

“Kendaraan pribadi juga kami imbau untuk konversi ke BBG, tapi mungkin karena faktor harga yang cukup tinggi membuat animo pemilik kendaraan untuk konversi masih rendah,” ujarnya.

Saat ini Pertamina masih menyediakan converter kit-nya pada kendaraan komersial seperti taksi dan bis. “Pertamina membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, seperti Departemen Perindustrian, Departemen Perhubungan, dan departemen lainnya untuk program konversi BBG ini,” tambahnya.

Ia memaparkan dukungan yang diberikan bisa berbentuk kebijakan untuk menggunakan BBG bagi kendaraan dinas milik departemen. Sehingga semakin banyak pemilik kendaraan menkonversi penggunaan bahan bakarnya dengan menggunakan gas.

Ia juga mengatakan, Pertamina masih menata program konversi BBG ini. “Kami akan menghidupkan kembali beberapa kegiatan yang sempat terlantar untuk mendukung program pemerintah menggalakkan BBG sebagai alternatif BBM,” tambahnya.

Mengenai faktor keamanan alat dan tabung gas, ia mengatakan, ada bengkel-bengkel khusus yang dapat memperbaiki alat dan tabung yang mengalami kerusakan. “Bengkel-bengkel tersebut telah bersertifikat untuk memperbaiki kerusakan dan bertanggung jawab jika terjadi kerusakan,” paparnya.

Belum jelas memang penyebab terbakarnya bus TransJakarta bernomor polisi B7475 ZX di Tugu Tani, Jakarta. Dugaan sementara api berasal dari korsleting listrik. Tudingan sempat mengarah pada kebocoran BBG, namun aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Ia menepis tudingan bahwa Pertamina yang bertanggung jawab jika terjadi kerusakan pada alat atau tabung gas. “Kami hanya menyiapkan gas (bahan bakar) dan pengisiannya saja,” tandas Wisnuntoro.

Ditanya mengenai persaingan dengan beberapa perusahaan lain seperti Shell ataupun Petronas yang juga mempunyai produk BBG, Wisnuntoro mengatakan, Pertamina malah menyambut baik pesaingnya yang menawarkan produk yang sama. “Ini makin mendorong Pertamina memberikan pelayanan yang lebih baik,” ujarnya.

Dukungan penggunaan BBG juga datang dari Wakil Presiden M Jusuf Kalla. Wapres memerintahkan Wakil Gubernur DKI Prijanto untuk membuat aturan yang menetapkan batas waktu satu tahun kepada angkutan umum di Ibukota, untuk beralih menggunakan BBG.

“Jadi Pak Wagub (Prijanto), perintahkan saja satu tahun batas waktunya, buat aturan angkutan umum harus pakai BBG. Nanti saya juga akan perintahkan PT Pertamina (untuk bangun SPBG),” kata Wapres saat peluncuran kembali penggunaan bahan bakar gas (BBG) bagi angkutan umum dan taksi di Jakarta, kemarin.

Wapres mengatakan program penggunaan BBG sebenarnya sudah dilakukan sejak 20 tahun lalu, tapi tidak berjalan dengan mulus. Menurut Wapres salah satu penyebabnya karena tidak ada target waktu yang jelas.

Sementara itu, pengamat perminyakan M Qurtubi mengatakan, penggunaan BBG pada kendaraan bermotor memang sangat baik karena di samping murah, BBG juga ramah lingkungan. “Tapi standar dan prosedurnya harus dipenuhi,” tambahnya.

Faktor keamanan dan keselamatan BBG patut menjadi perhatian besar. Kejadian yang diduga dipicu peralatan BBG yang kurang aman beberapa kali berakhir dengan kebakaran.

BBG sebenarnya diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada 2003. Dalam beberapa tahun terakhir BBG digunakan terbatas pada bus TransJakarta dan beberapa taksi saja. Pemilik kendaraan pribadi masih banyak yang meragukan keamanan dari BBG serta masih terbatasnya jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG).

Memang dari segi ekonomi penggunaan BBG jauh lebih hemat dibandingkan dengan BBM. Harga satu liter BBG adalah Rp 2.600, sedangkan untuk satu liter premium adalah Rp 4.500. Saat ini ada 28 unit Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas (SPBG) di Jabodetabek dan 11 di antaranya berada di wilayah DKI Jakarta.

Disadur dari sini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: